Abdullah bin abbas adalah anak dari Abbas bin Abdul Muthallib (paman dari Rasulullah Muhammad SAW) dan Ummu al-Fadl Lubaba (Wanita kedua yang memeluk agama islam setelah istri Rasulullah Khadijah). Abdullah bin abbas dikenal juga dengan nama Ibnu Abbas. Ibnu Abbas adalah salah-satu sahabat (muda) Nabi, sekaligus kerabat dekat. Dia lahir tiga tahun sebelum hijrah (619 - Thaif, 687/68H).
Dari sisi keturunan, Ibnu Abbas tiada tanding. Sejak kecil, Ibnu Abbas dekat dengan Nabi. Dia pernah, tengah malam, sengaja bangun saat melihat Nabi bangun. Bergegas dia keluar. Saat melihat Nabi hendak ber-wudhu, Ibnu Abbas segera mengambil air. Nabi mengelus kepala Ibnu Abbas, lantas berkata: "Ya Allah, pahamkanlah ia dalam perkara agama-Mu, dan ajarilah ia tafsir Kitab-Mu." (Dalam riwayat lain, Nabi memeluknya, dan berkata kalimat tersebut).
Dari sisi akses langsung kepada Nabi, Ibnu Abbas jelas tiada tanding.
Ibnu Abbas masih berusia 13 tahun saat Nabi wafat. Sungguh tak terbilang rasa sedihnya. Tapi dia terus semangat belajar Al Qur’an, sekecil itu, dia belajar langsung kepada sahabat-sahabat Nabi, saking semangatnya, dia pernah tertidur di depan rumah para sahabat karena menunggu. Maka tumbuhlah Ibnu Abbas menjadi salah-satu penafsir Al Qur’an terbaik. Umar bin Khattab mengajak Ibnu Abbas dalam majelis rapatnya, dan saat ada yang keberatan, karena melihat betapa muda-nya Ibnu Abbas, Umar menjawabnya lugas, “Kalian telah mengetahui kepandaiannya.”
Dari sisi proses belajar, ketangguhan mencari ilmu pengetahuan, Ibnu Abbas jelas tiada tanding. Ibnu Abbas adalah salah-satu ahli tafsir terbaik.
Kalian pernah membaca kisah tentang beliau? Mungkin iya, mungkin tidak.
Lantas kenapa saya menulis kisah Ibnu Abbas? Karena sederhana sekali. Dalam kacau balaunya dunia hari ini, saya khawatir, bahkan ketika Ibnu Abbas yang menafsirkan sebuah perkara dari Al Qur’an dengan terang-benderang, kita boleh jadi tetap akan membantahnya, simpel karena kita tidak cocok dengan versi tafsir Ibnu Abbas tersebut. Demikianlah. Karena yang menjadi masalah, tidak pernah bagaimana sesuatu itu ditafsirkan menjadi apa, melainkan hati kita masing-masing. Sekali kita sudah punya versi sendiri, mau Ibnu Abbas sekalipun--yang bahkan waktu kecil didoakan langsung oleh Nabi agar memahami Al Qur’an, kita tetap bodo amat. Merasa paling tahu, merasa paling benar. Mengotot ampun-ampunan. Hingga lupa? Kita teh siapa?
Sumber: Tere Liye
Republish By: ||DM (Dunia Muslim) ||
Dari sisi keturunan, Ibnu Abbas tiada tanding. Sejak kecil, Ibnu Abbas dekat dengan Nabi. Dia pernah, tengah malam, sengaja bangun saat melihat Nabi bangun. Bergegas dia keluar. Saat melihat Nabi hendak ber-wudhu, Ibnu Abbas segera mengambil air. Nabi mengelus kepala Ibnu Abbas, lantas berkata: "Ya Allah, pahamkanlah ia dalam perkara agama-Mu, dan ajarilah ia tafsir Kitab-Mu." (Dalam riwayat lain, Nabi memeluknya, dan berkata kalimat tersebut).
Dari sisi akses langsung kepada Nabi, Ibnu Abbas jelas tiada tanding.
Ibnu Abbas masih berusia 13 tahun saat Nabi wafat. Sungguh tak terbilang rasa sedihnya. Tapi dia terus semangat belajar Al Qur’an, sekecil itu, dia belajar langsung kepada sahabat-sahabat Nabi, saking semangatnya, dia pernah tertidur di depan rumah para sahabat karena menunggu. Maka tumbuhlah Ibnu Abbas menjadi salah-satu penafsir Al Qur’an terbaik. Umar bin Khattab mengajak Ibnu Abbas dalam majelis rapatnya, dan saat ada yang keberatan, karena melihat betapa muda-nya Ibnu Abbas, Umar menjawabnya lugas, “Kalian telah mengetahui kepandaiannya.”
Dari sisi proses belajar, ketangguhan mencari ilmu pengetahuan, Ibnu Abbas jelas tiada tanding. Ibnu Abbas adalah salah-satu ahli tafsir terbaik.
Kalian pernah membaca kisah tentang beliau? Mungkin iya, mungkin tidak.
Lantas kenapa saya menulis kisah Ibnu Abbas? Karena sederhana sekali. Dalam kacau balaunya dunia hari ini, saya khawatir, bahkan ketika Ibnu Abbas yang menafsirkan sebuah perkara dari Al Qur’an dengan terang-benderang, kita boleh jadi tetap akan membantahnya, simpel karena kita tidak cocok dengan versi tafsir Ibnu Abbas tersebut. Demikianlah. Karena yang menjadi masalah, tidak pernah bagaimana sesuatu itu ditafsirkan menjadi apa, melainkan hati kita masing-masing. Sekali kita sudah punya versi sendiri, mau Ibnu Abbas sekalipun--yang bahkan waktu kecil didoakan langsung oleh Nabi agar memahami Al Qur’an, kita tetap bodo amat. Merasa paling tahu, merasa paling benar. Mengotot ampun-ampunan. Hingga lupa? Kita teh siapa?
Sumber: Tere Liye
Republish By: ||DM (Dunia Muslim) ||
